Yayasan Padma Bhuana

Jln. Graha Wisata Gg I/2 Sidakarya
(0361) 726782, 7844104,7426261, 8016398
PadmaBhuana@yahoo.com
www.PadmaBhuana.com

 

Padma Bhuana Bali

Home
..................................................
Pengurus Pelaksana
..................................................
Heart light Meditation & Yoga
..................................................
Jenis yoga menurut Kitab Yoga Sutra
..................................................
Kegiatan rutin padma Bhuana
..................................................
Photos Galleries kegiatan
..................................................
Tempat Latihan Cahaya Hati
..................................................
Puisi Ungkapan Keluarga Bahagia
..................................................
Otonan & Bebayuhan Bersama
..................................................
Workshop
..................................................
Artikel
..................................................
info Perkebunan
(keep in Green)

..................................................
Cara Menghindar dari Bahaya Gempa dan Tsunami
..................................................
Tirta Yatra Pura Puncak Mangu

 


Pemanfaatan Tanaman Obat di Sekitar Kita

Oleh : N. Danny Sridana

            Sejak dahulu orang sudah mengenal tanaman obat-obatan tradisional. Tanaman tersebut dapat tumbuh subur dengan beragam jenis. Pengetahuan ini diperoleh berdasarkan pengalaman, didapatkan secara lisan dan turun-temurun oleh nenek moyang kita. Dengan dikenalnya pengobatan modern yang menggunakan obat kimia sintetis ini dan semakin meningkatnya harga obat-obatan tersebut, maka dalam belakangan ini orang kembali beralih ke pengobatan tradisional.

            Hal ini telah diadakan penelitian yang komprehensif dan pengujian terhadap pengobatan-pengobatan tradisional tersebut. Obat-obatan herbal tradisional telah berkembang menjadi salah satu dari sistem medis yang berhasil di dunia. Oleh karena itu, apa pun yang membawa kita ke arah  yang lebih alamiah mari kita sambut dengan baik.

            Masyarakat kita sudah sejak lama mengenal tanaman obat. Tanaman obat adalah tumbuhan yang berkhasiat obat yaitu menghilangkan rasa sakit, meningkatkan daya tahan tubuh, membunuh bibit penyakit dan memperbaiki organ yang rusak serta menghambat pertumbuhan tidak normal seperti tumor  dan kanker.  Tanaman obat dapat berupa tanaman pangan, tanaman liar, tanaman perkebunan dan tanaman hortikultura maupun tumbuh-tumbuhan liar seperti semak belukar dan tumbuhan hutan. Penggunaan tanaman obat ini sudah dilakukan dari generasi ke generasi selama ribuan tahun sehingga tanaman obat dikenal sebagai tanaman obat nenek moyang. Berdasarkan kenyataan ini, maka penggunaan tanaman obat sudah merupakan bagian dari tradisi masyarakat tradisional kita.

            Artikel tentang  pemanfaatan tanaman obat di sekitar kita, akan diuraikan secara bersambung pada edisi Majalah Craddha guna memperluas pengetahuan kita tentang tanaman di sekitar kita bersama saya, N. Danny Sridana. Sekedar info, saya sendiri adalah praktisi herbalis yang menekuni pengobatan akupunktur,  Homeopathi (pemilik usaha VisionBali Herbal Indonesia), mahasiswa di Fakultas Kesehatan Ayurveda UNHI Denpasar, Peramu Herbal dan juga pengusaha export-import, perkebunan serta usaha yang bergerak dibidang pariwisata. Berkesempatan untuk ikut melanjutkan mengisi halaman Majalah Craddha atau share di dunia pendidikan dalam pemanfaatan tanaman yang berkasiat obat di sekitar kita. Kita sebagai masyarakat Timur sudah terbiasa menggunakan ramuan herbal berupa Jamu (Bahasa Bali : Loloh)  untuk menjaga agar tubuh kita sehat, bugar dan panjang umur. Ini merupakan warisan dari leluhur yang agung yang perlu kita dalami dan memanfaatkan tanaman di sekitar kita.  Dengan mengemas berupa ramuan. Ramuan adalah seseorang yang melakukan pengobatan dan atau perawatan tradisional dengan menggunakan obat / ramuan tradisional yang berasal dari tanaman (flora), fauna, bahan mineral, air, dan bahan alam lain. Ada juga yang menerapkan berupa pengobatan kombinasi berupa Homeopathi. Homeopathi adalah suatu teknik pengobatan dengan menggunakan obat/ramuan dengan dosis rendah (kecil) tetapi mempunyai potensi penyembuhan tinggi, dengan menggunakan pendekatan holistik berdasarkan keseimbangan antara fisik, mental, jiwa dan emosi penderita.

Sangat jelas, bahwa penggunaan tumbuhan obat tidak sesederhana seperti yang dipikirkan orang selama ini. Semua harus dipelajari dan memerlukan pengalaman tersendiri. Salah mengenali tumbuhan obat, maka tidak bisa menyembuhkan penyakit.  Apalagi salah dalam menggabungkan beberapa tumbuhan obat yang khasiatnya berlawanan. Untuk itu dalam penggunaan tumbuhan obat, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sehingga diperoleh hasil pengobatan yang maksimal. Untuk mendapatkan obat yang terbaik dari tumbuhan obat, perlu diperhatikan saat pengumpulan atau pemetikan bahan berkhasiat. Ada pun beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengolahan obat berkhasiat baik atau kurang baik diantaranya:

  1. Waktu pengumpulan
  2. Pencucian dan pengeringan
  3. Sifat tanaman tersebut serta cita rasa
  4. Cara mengolah atau merebus tanaman tersebut.
  5. Waktu mengkonsumsi atau minum ramuan tersebut.
  6. Cara mengkonsumsi atau minum
  7. Lamanya pengobatan.

            Badan POM (Pengawasan Obat dan Makanan) mengelompokkan Obat Bahan Alam dalam 3 (tiga) kelompok.

  1. Kelompok terendah adalah JAMU. JAMU adalah ramuan yang dibuat dari bahan-bahan alam, digunakan secara turun-temurun, dipercaya  berkhasiat berdasarkan pengalaman, dan belum ada penelitian ilmiah untuk mendapatkan bukti klinik mengenai khasiat tersebut. Bahan-bahan jamu umumnya berasal dari semua bagian, bukan hasil ekstraksi/isolasi mengenai bahan aktifnya saja, bahkan kemungkinan bahan aktif belum diketahui secara pasti karena belum ada penelitian.
  2. Setingkat di atas jamu adalah HERBAL TERSTANDAR, yaitu bahan-bahan jamu yang telah diuji secara ilmiah (penelitian pra klinik dengan hewan uji) mengenai efek dan manfaat, memenuhi kriteria aman, klaim khasiat dibuktikan secara ilmiah, telah dilakukan standarisasi terhadap bahan baku yang digunakan dalam produk jadi, memenuhi persyaratan mutu yang berlaku.
  3. Kategori tertinggi adalah FITOFARMAKA dengan persyaratan aman, klaim khasiat berdasarkan uji klinik (diterapkan pada manusia, pembuktian pada tingkat medium dan tinggi) telah dilakukan standarisasi terhadap bahan baku yang digunakan, dan memenuhi persyaratan mutu yang berlaku.

Waktu pengumpulan

            Untuk mendapatkan bahan yang terbaik dari tumbuhan obat, perlu diperhatikan saat-saat pengumpulan atau pemetikan bahan berkhasiat, dengan beberapa pedoman menurut buku panduan dari Pusat Pengembangan, Pengkajian & Pelatihan Tanaman Obat 2012. (Bersambung ke edisi berikutnya).

Salam sehat dari VisionBali Herbal Indonesia, Jl. Tukad badung XXIII/27 Renon Selatan, Denpasar.

Waktu pengumpulan

A. Waktu Pengumpulan

            Untuk mendapatkan bahan yang terbaik dari tumbuhan obat, perlu diperhatikan saat-saat pengumpulan atau pemetikan bahan berkhasiat. Berikut ini pedoman waktu pengumpulan bahan obat secara umum:

  1. Daun dikumpulkan sewaktu tanaman berbunga dan sebelum buah menjadi masak.
  2. Bunga dikumpulkan sebelum atau segera setelah mekar.
  3. Buah dipetik dalam keadaan masak.
  4. Biji dikumpulkan dari buah yang masak sempurna.
  5. Akar, rimpang (rhizoma), umbi (tuber), dan umbi lapis (bulbus) dikumpulkan sewaktu proses pertumbuhan terhenti
B. Pencucian dan Pengeringan

            Bahan obat yang sudah dikumpulkan segera dicuci bersih, sebaiknya dengan air yang mengalir. Setelah bersih, dapat segera dimanfaatkan bila diperlukan pemakaian bahan segar. Namun, bias pula dikeringkan untuk disimpan dan digunakan bila sewaktu-waktu dibutuhkan.
Pengeringan bertujuan untuk mengurangi kadar air dan mencegah pembusukan oleh cendawan atau bakteri. Dengan demikian bahan dapat disimpan lebih lama dalam stoples atau wadah yang tertutup rapat. Bahkan kering juga mudah dihaluskan bila ingin dibuat serbuk. Berikut ini cara mengeringkan bahan obat:

  1. Bahan berukuran besar atau banyak mengandung air dapat dipotong-potong seperlunya terlebih dahulu.
  2. Pengeringan bisa langsung dibawah sinar matahari, atau memakai pelindungseperti kawat halus jika menghendaki pengeringan yang tidak terlalu cepat.
  3. Pengeringan bisa juga dilakukan dengan mengangin-anginkan bahan di tempat yang teduh atau didalam ruang pengering.

 

C. Sifat dan Cita Rasa

            Didalam Tradisional Chinese Pharmacology dikenal 4 macam sifat dan 5 macam cita rasa tumbuhan obat, yang merupakan bagian dari cara pengobatan timur. Adapun keempat macam sifat tumbuhan obat itu ialah dingin, panas, hangat, dan sejuk. Tumbuhan obat yang sifatnya panas dan hangat dipakai untuk pengobatan sindroma dingin, seperti pasien yang takut dingin, tangan dan kaki dingin, lidah pucat atau nadi lambat. Tumbuhan obat yang sifat dingin dan sejuk digunakan untuk pengobatan sindroma panas, seperti demam, rasa haus, warna kencing kuning tua, lidah merah, atau denyut nadi cepat.
Lima macam cita rasa dari tumbuhan obat ialah pedas, manis, asam, pahit, dan asin. Cita rasa ini digunakan untuk tujuan tertentu karena selain berhubungan dengan organ tubuh, juga memiliki kegunaan tersendiri. Misalnya rasa pedas mempunyai sifat menyebar dan merangsang. Rasa manis berkhasiat tonik dan menyejukkan. Rasa asam berkhasiat mengawetkan. Rasa pahit dapat menghilangkan panas dan lembap. Sementara rasa asin melunakkan dan sebagai pencahar. Kadang-kadang ada juga penulis yang menambah cita rasa yang keenam yaitu netral atau tawar yang berkhasiat sebagai peluruh kencing.

D. Cara Merebus Ramuan Obat

            Perebusan umumnya dilakukan dalam pot tanah, pot keramik, atau panci email. Panci dari bahan besi, aluminium, atau kuningan sebaiknya tidak digunakan untuk merebus. Hal ini perlu diingat karena bahan tersebut dapat menimbulkan endapan, konsentrasi larutan obat yang rendah, terbentuknya racun, atau menimbulkan efek samping akibat terjadinya reaksi kimia dengan bahan obat.
Gunakan air yang bersih untuk merebus. Sebaiknya digunakan air tawar, kecuali ditentukan lain. Cara merebus bahan sebagai berikut: bahan obat dimasukkan ke dalam pot tanah, masukkan air sampai bahan terendam seluruhnya dan permukaan air berada sekitar 30 mm diatasnya. Perebusan dimulai bila air telah meresap ke dalam bahan ramuan obat.
Apabila nyala api tidak ditentukan, biasanya perebusan dilakukan dengan api besar sampai airnya mendidih. Selanjutnya api dikecilkan untuk mencegah air rebusan meluap atau terlalu cepat kering. Meski demikian, adakalanya api besar dan api kecil digunakan sendiri-sendiri sewaktu erebus bahan obat. Sebagai contoh, obat yang berkhasiat tonik umumnya direbus dengan api kecil, sehingga zat berkhasiatnya dapat secara lengkap dikeluarkan dalam air rebusan. Demikian pula tumbuhan obat yang mengandung racun perlu direbus dengan api kecil dalam waktu yang agak lama, sekitar 3-5 jam untuk mengurangi kadar racunnya. Nyala api yang besar digunakan untuk ramuan obat yang berkhasiat mengeluarkan keringat, seperti ramuan obat untuk influenza dan demam. Hal ini dimaksudkan agar pendidihan menjadi cepat dan penguapan berlebihan dari zat yang merupakan komponen aktif tumbuhan dapat dicegah.
Apabila tidak ditentukan khusus, perebusan dianggap selesai ketika air rebusan tersisa setengah dari jumlah air semula. Namun jika bahan obat yang direbus banyak yang keras seperti biji, batang, dan kulit kayu maka perebusan selesai setelah air tersisa sepertiganya. Berikut ini cara perebusan yang sedikit berbeda dari cara konvensional yang telah diuraikan diatas, karena adanya bahan-bahan yang memerlukan perlakuan khusus.

  1. Direbus terlebih dahulu. Dilakukan bila ada bahan obat yang bear atau keras dan sukar diekstrak seperti kulit kerang atau bahan mineral. Bahan tersebut perlu dihancurkan dan direbus lebih dahulu 10 menit sebelum bahan lain dimasukkan.
  2. Direbus paling akhir bila ada bahan obat yang mudah menguap atau bahan aktifnya mudah terurai. Contoh: papermint, atau bahan pewangi. Bahan tersebut biasa dimasukkan paling akhir, kira-kira 4-5 menit menjelang rebusan obat ditingkat.
  3. Direbus dalam bungkusan. Beberapa bahan obat harus dibungkus terlebih dahulu dengan kain sebelum direbus untuk mencegah timbulnya kekeruhan, lengket, dan terbentuknya bahan yang dapat menimbulkan iritasi pada tenggorokan.
  4. Didihkan perlahan-lahan atau direbus terpisah. Maksudnya untuk menghindari rusaknya zat berkhasiat atau terserapnya zat tersebut bila direbus dengan bahan lain. Contohnya ginseng, bahan ini perlu diiris tipis-tipis kemudian direbus terpisah dalam pot tertutup dengan api kecil selama 2-3 jam.
  5. Dilarutkan dengan penyeduhan. Dilakukan bila ada obat yang lengket, kental, atau mudah terurai bila direbus terlalu lama dengan bahan obat lainnya, atau mudah melekat di dinding pot maupun dibahan obat lain sehingga menghambat keluarnya zat aktif obat lain. Contoh gelatin kulit kedelai, dimasukkan dalam cangkir terpisah lalu diseduh dengan air rebusan obat.

E. Waktu Minum Obat

            Obat biasanya diminum sebelum makan kecuali obat tersebut merangsang lambung maka diminum setelah makan. Obat berkhasiat tonik diminum sewaktu perut kosong, dan obat berkhasiat sedative diminum sewaktu ingin tidur. Pada penyakit akut obat diminum setiap saat, pada penyakit kronis diminum sesuai jadwal secara teratur.

F. Cara Minum Obat

            Obat umumnya diminum satu dosis sehari yang dibagi 2-3 kali minum. Umumnya obat diminum selagi hangat, terutama untuk pengobatan sindroma luar. Setelah minum obat pakailah baju tebal atau tidur berselimut supaya tubuh tetap hangat dan mudah mengeluarkan keringat.
Untuk pengobatan sindroma panas, obat diminum dalam keadaan hangat. Obat yang sedikit toksik, diminum sedikit demi sedikit tetapi sering. Tambahkan dosisnya bertahap sehingga efek pengobatan tercapai.

G. Lama Pengobatan

            Tumbuhan obat yang masih berupa simplisia, hasil pengobatannya tampak lambat, namun sifatnya konstruktif atau membangun. Hal ini berbeda dengan obat kimiawi yang hasil pengobatannyaterlihat cepat namun destruktif. Oleh karenaitu, obat yang berasal dari tumbuhan tidak dianjurkan penggunaannya untuk penyakit-penyakit infeksi akut. Tumbuhan obat lebih diutamakan untuk memelihara kesehatan dan pengobatan penyakit kronis yang tidak mampu disembuhkan dengan obat kimiawi, dan ingin menghindari efek sampingnya, atau memerlukan kombinasi pengobatan antara obat kimiawi dengan obat dari tumbuhan berkhasiat.
 


Manusia Berusaha menyempurnakan diri menuju hidup lebih baik pada kehidupan ini dan nanti.
Menuju kehidupan lebih baik adalah dambahan kita semua, Mari memilih lakukan yang terbaik buat diri sendiri, keluarga, teman dan se-isi semesta agar semua mahkluk hidup berdampingan dan berbahagia (N. Danny Sridana)

NEXT, Heart light Meditation & Yoga >>

Business motivation | Air Minum Kesehatan Nonmin | Bisnis related |

Sitemap